Jumat, 23 April 2010

Landasan membangun Sistem FOREX yang Powerful

Dalam segala hal, termasuk FOREX, sukses terletak pada sistem yang powerful. Hal pertama yg perlu dilakukan adalah menciptakan sistem yang tepat dan cocok bagi kita sendiri. Karena sistem yang powerful bagi seorang trader belum tentu cocok dengan trader yang lain. Kita bisa googling ratusan sistem atau rahasia sukses trader FOREX, tapi gw yakin tidak 100% bakalan cocok dengan anda.

Untuk membangun sebuah sistem FOREX ada 2 hal besar yang perlu diperhatikan:

1. Kenali Risk appetite.
Risk appetite adalah seberapa besar anda sanggup menerima kerugian. Ingat forex bukanlah investasi yang tanpa risiko, jadi perlu dipelajari besarnya risiko kerugian yang ada didalamnya untuk disesuaikan dengan seberapa sanggup mampu menerimanya dari diri masing-masing . Kalau gw pribadi, gw memiliki ratio risk to return (RRR) adalah 1:1 . Artinya, gw bersedia rugi 50 pips untuk mendapatkan 50 pips. Gambler appetite? :P wallahuallam..

Ada beberapa teman trader gw yang ratio risk return-nya lebih besar pada sisi "return", misalnya 1:2, jadi dia sekali trading mengharapkan return 2x lipat dibandingkan risiko yang dia ingin terima. Misalnya dia menargetkan TP 50 pips namun memasang SL 25 pips. Jadi ini mungkin tipe yg disebut "risk averse".
Namun sebaliknya ada pula yang risk return rationya justru lebih besar pada sisi "risk"-nya, misalkan dia dalam sekali trading menargetkan 20 pips namun memasang stop loss 50 pips. Bisa jadi disebut "risk taker", tapi sepertinya rada aneh, karena bersedia menanggung risiko lebih besar tapi mengharapkan "return" yg lebih kecil.

2. Kenali gaya trading masing-masing.
Gaya trading masing-masing trader berbeda. Ada yang enjoy menjadi "swing trader" atau ada yg lebih memilih menjadi "scalper". Perbedaan mendasar dari keduanya adalah dari besarnya TP dan SL-nya. Bagi swing trader, TP relatif besar, bisa mencapai puluhan atau ratusan pips. Keuntungan menjadi swing trader adalah kebebasan waktu karena TP-nya yang bisa ratusan pips, jadi tidak perlu berjam-jam memelototi grafik forex. Sementara kelemahannya adalah dari segi waktu tercapainya TP yang bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Selain itu, swinger juga sering kehilangan opportunity gain karena dalam perjalanan trend grafik menuju TP, seringkali muncul trend-trend kecil yg sebenarnya bisa menjadi profit meskipun hanya beberapa puluh pips.
Sementara itu menjadi scalper dilain sisi juga menyenangkan, karena TP nya sangat kecil, bisa cuma 10-20 pips sekali trading. Karena TP nya kecil, maka dalam hitungan menitpun TP bisa tercapai. Bahkan jika dengan gaya swing trader yang menargetkan 300 pips dan umumnya tercapai dalam 1-2 minggu, maka dengan gaya scalper, 300 pips itu bisa tercapai dalam 1-3 hari saja dengan asumsi perhari sukses trading 10 kali dengan TP 10 pips sekali trading. Kelemahannya adalah harus memiliki banyak waktu memelototi grafik forex dan indikator untuk menentukan kapan saatnya masuk trading. Selain itu, karena TP nya kecil, maka SL nya pun juga kecil (ingat konsep RRR diatas), sehingga SL pun juga lebih mudah tereksekusi. Dari pengalaman gw, scalper selain juga melelahkan, dia juga menguras emosi lebih banyak karena dalam sehari bisa melakukan trading beberapa kali sehingga faktor emosi yg muncul ketika trading pun jadi lebih sering muncul.

Nah, sekarang nilailah diri kita sendiri berdasarkan 2 hal diatas. Gw yakin masing-masing orang akan memiliki risk appetite dan gaya trading yang berbeda-beda. Setelah mengenali risk appetite dan gaya trading yang paling cocok buat diri anda, maka andapun bisa membangun sistem trading yang powerful bagi anda sendiri.

Happy trading..!

Kamis, 08 April 2010

Pengalaman Membuat Paspor Sendiri

Sejak dulu gw pengen banget punya paspor (meskipun gw belum tau kapan bisa ke luar negeri.. hehe). Pokoknya punya dulu aja lah, sapa tau juga dapat rezeki hingga bisa jalan2 keluar negeri. Makanya setelah memendam keinginan cukup lama, akhirnya bulan Maret kemaren gw putusin buat bikin paspor.
Tadinya gw pengen ngurus paspor lewat biro jasa biar ga ribet. Tapi setelah tanya temen2, ternyata ngurus paspor lewat biro jasa lumayan mahal. Katanya seh kalo yang kilat, foto sekarang dan besok jadi, maka harganya bisa nyampe 1 juta. Tapi kalo bikinnya rombongan maka harganya bisa jadi 850 ribu. Karena gw ga terlalu butuh paspor buru-buru, akhirnya gw putusin untuk bikin sendiri aja. Lagian lumayan selisih harganya, karena biaya pengurusan paspor normal cuma dikenai biaya ga sampe 300 ribu.

Setelah gw cek tata cara pembuatan paspor di website imigrasi, setidaknya pembuatan paspor membutuhkan kita untuk 3 kali datang ke imigrasi, yang pertama ketika mendaftar, kedua untuk foto dan wawancara, dan ketiga untuk ambil paspor yang udah jadi. Total proses pembuatan kurang lebih 6-7 hari kerja.
Dengan total 3 kali datang ke imigrasi, gw itung-itung berarti setidaknya harus ambil cuti 2 hari, yaitu saat mendaftar dan saat foto/wawancara, karena 2 proses itu sepertinya bisa makan waktu seharian. Sedangkan pengambilan paspor sepertinya ga akan butuh waktu lama. Agak males juga sih kalo gini, karena rugi banget gw ngebuang jatah cuti 2 hari hanya untuk ngurus paspor, secara setahun kan jatah cuti cuma 12 hari, blom dipotong cuti bersama :)

Namun harapan gw muncul karena setelah klak-klik laman imigrasi ternyata ada juga tautan untuk mendaftar paspor secara online disini. Dengan mendaftar secara online berarti gw ga perlu datang langsung untuk mendaftar dikantor imigrasi, dan artinya gw cuma butuh cuti sehari doang yaitu saat foto/wawancara aja. Yess..! Gw seneng karena jatah cuti gw ga akan habis sia-sia.

Akhirnya gw pun mulai mengisi pendaftaran secara online, namun meskipun online, gw tetep harus memenuhi syarat pendaftaran. Adapun syarat pendaftaran adalah harus menyediakan:
1. KTP
2. KK
3. Akte kelahiran (bisa diganti ama Ijasah Terakhir)
4. Rekomendasi tertulis dari instansi tempat bekerja
5. Paspor lama (jika perpanjangan paspor)
6. Surat ganti nama jika pernah berganti nama
Berhubung gw blom pernah punya paspor sebelumnya dan ga pernah ganti nama :P makanya gw cuma butuh syarat no. 1 s/d no.4 aja. Setelah dokumen-dokumen itu gw scan, gw pun memulai pendaftaran secara online. Cara mendaftarnya pun gampang kok, cuma masukin biodata aja dan upload scan-an dokumen persayaratan. Setelah selesai pendaftaran, dilayar muncul tulisan "Permohonan sedang diverifikasi". Yess..! sepertinya gw cuma tinggal nunggu proses verifikasinya aja nih, mungkin hasil verifikasinya akan dikirim ke email gw, karena saat pendaftaran gw diminta memasukkan alamat email. Diam-diam gw merasa bangga juga, ternyata Indonesia udah maju bisa mengurus permohonan secara online.

Hari demi hari ternyata ga pernah ada hasil konfirmasi yang terkirim ke email gw, dan gw pun mulai meragukan proses online tersebut. Akhirnya gw balik lagi ka leman pendaftaran online. Di situ gw klik "Status Permohonan", gw masukkin nama dan tanggal lahir gw, ternyata hasilnya tetep aja tulisan "Permohonan sedang diverifikasi". Beh.. sepertinya ada yang ga beres nih. Gw coba menelpon ke kantor imigrasi pusat, ternyata ama bapak-bapak yg ngangkat telepon dijelaskan kalo proses pendaftaran online emang udah ga bisa, dan kalaupun bisa bakal lama banget gw dipanggil untuk foto/wawancara. Akhirnya dia menyarankan untuk datang aja langsung ke kantor imigrasi buat pendaftarannya. Gw pun ngomel2, karena kalo emang lagi ga bisa (rusak) ya jangan diaktifin dong tautan pendaftaran online nya.

Besoknya gw pun pergi ke kantor imigrasi Jakarta Selatan di Wr. Buncit, dan untungnya kali ini gw ga perlu cuti, karena setelah gw ngomong ke atasan, ternyata dia berbaik hati memberikan izin stengah hari ke gw (thx boss..). Nyampe di imigrasi buncit jam 9, setelah nanya petugas, dia nyuruh gw untuk ngisi formulir dulu dan baru ngambil nomor antrian. Namun setelah melihat kondisi pendaftar yang udah banyak, gw memilih untuk ngambil nomor antrian dulu, letak nomor antriannya diloket 2 dibawah TV. Setelah dapet no antrian, baru gw ngambil formulir. Ternyata formulirnya ada di tempat fotokopian, posisinya persis dibelakang tangga lt. 1. Formulirnya sih gratis, tapi gw harus bayar biaya map sebesar 5 ribu.

Setelah formulir terisi, gw pun duduk manis diruang tunggu didepan loket. Gw perhatiin ternyata no antrian gw 148, sementara saat gw mulai duduk, no yg dipanggil baru no 42. Sial.. berarti gw harus nunggu antrian 100 org lebih. Dengan jumlah loket yang cuma 3, dan kalo dihitung rata-rata sekali org diloket menghabiskan waktu 5-10 menit, maka gw baru bisa dipanggil 4-5 jam lagi. Bisa-bisa jam 2 siang nih gw baru dipanggil. Namun harapan bisa lebih cepat pun muncul karena ternyata banyak juga nomor antrian yang setelah dipanggil ga ada orgnya (mungkin udh pada ngabur duluan karena ga sesabar gw.. hehe). Dan yang membuat gw sedikit lebih happy karena setelah se-jam nunggu, ternyata ada bapak2 yg duduk disebelah gw dan dpt nomor antrian 250-an. Dalam hati gw agak ngetawain dia, karena entah jam berapa nih bapak bakal dipanggil. Hehe.

Thanks to my blackberry yg membuat penantian gw ga terasa, karena ternyata tepat sebelum istirahat (jam 12), nomor antrian gw pun dipanggil. Untungnya formulir dan semua dokumen gw udh lengkap dan ga ada yg salah jadinya proses pendaftaran bisa lancar. Gw pun dikasih tanda bukti pendaftaran dan diminta datang 2 hari lagi utk proses foto, wawancara, dan pembayaran. Sekalian juga gw nanya ama mbaknya biaya pendaftarannya, dan dia bilang sih sebesar 270 ribu.

Dua hari kemudian gw balik lagi ke kantor imigrasi, dan kali ini pun gw ga perlu cuti karena somehow boss ngizinin gw masuk agak telat setelah gw meyakinkan dia bahwa proses foto/wawancara paling cuma butuh waktu 2 jam aja.. hehe
Belajar dari pengalaman sebelumnya, gw pun dateng sebelum jam 8 ke kantor imigrasi. Ampe disana gw langsung kasih bukti pendaftaran diloket 4, dan ntar nunggu dipanggil. Cuma nunggu 15 menit gw langsung dipanggil dan disuruh bayar di lt. 2. Setelah membayar 270 ribu di lt.2, gw menuju tpt foto di lt.1, dan disini gw kembali harus mengantri. Di tempat foto ada yg agak unik, karena loketnya ada 3, yaitu A, B, C. Jumlah antrian untuk masing-masing loket juga beda-beda, kalo dilihat antrian loket A sangat panjang. Gw aja dpt no antrian A60, padahal saat gw dateng baru nyampe A30. Sementara antrian loket B dan C ga terlalu banyak. Ada bapak2 yang dateng dan dia megang antrian untuk loket C, dan baru duduk 5 menit nomornya udah dipanggil. Penasaran dan sedikit ngedumel knapa antrian yg loket B dan C ga sepanjang yang A, gw pun mendatangi mas2 yg nemenin bapak2 pemegang antrian C tadi, dan sekilas sih tampangnya mirip calo (hehe).. Dia ngejelasin kalo antrian kode A itu untuk pendaftar normal, kalo yang B itu utk TKI/TKW, dan yang C itu kalo dari biro jasa. Pantes aja, makanya kalo ngurus lewat biro jasa bisa cepat, wong diimigrasinya sendiri udh dibedain mana antrian yg bayarnya normal ama yg bayarnya lebih mahal.

Setelah hampir 2 jam menunggu akhirnya gw dipanggil juga buat foto. Sama petugasnya gw difoto trus diambil sidik jari, sambil ditanya-tanyain siapa nama lengkap, lahir dimana, ortu siapa namanya, dan tujuan bikin paspor ngapain. Intinya dia verifikasi lah. Setelah semua proses selesai, gw dikasih resi bukti buat ngambil paspor 4 hari kemudian.

Empat hari kemudian, gw balik lagi ke imigrasi. Cuma kali ini ga pake izin atasan (hehe), karena gw yakin kalo ngambil pasti lebih cepat. Gw ke imigrasi pas jam 1 setelah pulang makan siang. Cuma nunggu 5 menit, paspor udah kepegang.

Dalam perjalanan pulang dari imigrasi gw pikir2 emang kalo ngurus paspor sendiri agak ribet dan capek, namun akhirnya semuanya terbayar dengan kepuasan karena ga perlu mahal-mahal lewat biro jasa dan yang paling penting gw udah punya paspor sendiri. Tinggal nih saatnya kapan keluar negerinya..??? :)